Skip to content

BEDAH BUKU PEDOMAN KINERJA PENYULUH AGAMA: Penguatan Profesionalisme dan Literasi Dakwah di Era Digital

Ponorogo, 23 Oktober 2025 — Sebanyak 140 penyuluh agama anggota IPARI Ponorogo memenuhi aula atas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo untuk mengikuti kegiatan Bedah Buku Pedoman Kinerja Penyuluh Agama. Kegiatan yang diselenggarakan oleh PW IPARI Jawa Timur ini menghadirkan jajaran pimpinan Kementerian Agama serta tim penyusun buku dari tingkat wilayah Jawa Timur, dengan semangat membangun paradigma baru penyuluhan agama di era digital.

Mengawali kegiatan, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam (Kasi Bimas Islam) Kemenag Ponorogo, Hayat Prihono Wiyadi, S.Ag., M.H., memberikan sambutan pembuka yang sarat apresiasi dan motivasi. Ia menegaskan bahwa IPARI Ponorogo merupakan salah satu organisasi penyuluh paling aktif dan kreatif di Jawa Timur.

“IPARI Ponorogo ini sangat keren dan patut menjadi contoh. Mereka satu-satunya yang mampu menyelenggarakan Festival Penyuluh Agama, sebuah inovasi luar biasa yang mencerminkan semangat, kreativitas, dan kolaborasi dalam dakwah,” ungkapnya dengan bangga.

Selanjutnya, kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo, Dr. Moh. Nurul Huda, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya profesionalitas dan kecerdasan literasi bagi setiap penyuluh agama. Dengan gaya retoris yang khas, ia mengajak seluruh peserta untuk merenungkan makna pengabdian dalam tugas dakwah.

“Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Siapkah menjadi IPARI yang hebat?” serunya menggugah semangat peserta.

Dr. Nurul Huda juga menyoroti peran penyuluh sebagai garda terdepan dalam menjaga harmoni sosial dan moralitas umat. Ia mengingatkan bahwa penyuluh harus mampu menjadi early warning system bagi masyarakat serta berperan sebagai isolator, konduktor, dan diligentor dalam menghadapi persoalan sosial-keagamaan.

“Penyuluh adalah semua orang hebat. Maka, jangan pernah bekerja dengan prinsip ‘pokoknya’. Penyuluh harus kaya literasi, banyak membaca, dan berpikir kritis agar bisa membimbing umat dengan ilmu, bukan asumsi,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Nurul Huda juga menyinggung inovasi layanan publik Kemenag Ponorogo yang kini memiliki videotron transparansi pelayanan, sebagai bentuk keterbukaan dan akuntabilitas kinerja. “Transparansi dan akuntabilitas adalah bagian dari dakwah. Masyarakat harus tahu bahwa pelayanan kita terbuka, cepat, dan berintegritas,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Penais Zakat dan Wakaf (Penais Zawa) Kanwil Kemenag Jawa Timur, Dr. Arwani, tampil dengan gaya inspiratif membuka arahannya melalui dua pantun yang menghangatkan suasana:

Mentari pagi bersinar terang, burung berkicau cerahkan suasana; bedah buku jadi langkah berbenah, tingkatkan kinerja penyuluh agama. Petani bekerja dengan tekun dan ramah, pedoman kinerja bukanlah lelah; tapi panduan menuju dakwah yang berkah.

Dalam arahannya, Dr. Arwani menegaskan pentingnya orientasi hasil bimbingan yang terukur dan berkelanjutan. Ia mengajak para penyuluh untuk menguasai lintas bidang, membangun kolaborasi antarinstansi, serta menjadi pendorong persuasif yang mampu menjadikan masyarakat sebagai subjek dakwah, bukan hanya objek.

“Tanamkan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan semangat kolaborasi. Di era digital ini, penyuluh harus memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah yang kreatif dan berkeadaban,” pesannya.

Tim penulis buku yang turut hadir dalam bedah substansi meliputi Syaifuddin Ma’arif (Ketua PW IPARI Jawa Timur), Kusnan, M.Fil.I., Dr. Alfiatu Solikah, M.Pd.I., dan Zakarian, M.Pd. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi, kolaborasi, dan penguatan komitmen bagi para penyuluh agama dalam meningkatkan kinerja, profesionalisme, dan literasi keagamaan di tengah arus perubahan zaman.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *