Skip to content

IPARI Law Camp One Day 2025: Penyuluh Agama sebagai Garda Terdepan Advokasi Ummat

Kediri, Indonesia – 8 September 2025. Sebuah peristiwa bersejarah berlangsung di Sempu Exotic Park, Kediri, Jawa Timur, ketika Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) menggelar “Law Camp One Day” dengan tema “Penyuluh Agama sebagai Garda Terdepan Advokasi Ummat.” Acara yang dipenuhi semangat kebersamaan, intelektualitas, dan komitmen moral ini dipandang sebagai salah satu tonggak penting dalam meneguhkan peran penyuluh agama di panggung nasional dan bahkan global.

Acara dimulai dengan nuansa khidmat melalui upacara pembukaan yang dihadiri para tokoh penting. Ketua IPARI, Dr. Alfiatu Solikah, S.Ag., M.Pd.I., menegaskan dalam laporannya bahwa penyuluh agama hari ini tidak hanya bertugas membimbing umat secara spiritual, tetapi juga tampil sebagai advokat sosial keagamaan yang membela hak-hak masyarakat dalam menghadapi problem hukum, sosial, dan budaya. Sambutan Kepala Kementerian Agama Kabupaten Kediri, H. Achmad Fa’iz, S.Ag., M.HI., memperkuat pesan tersebut dengan menekankan bahwa penyuluh agama adalah diplomat moral bangsa yang berperan besar menjaga harmoni dan keadilan.

Tidak hanya mengedepankan intelektualitas, acara ini juga menanamkan nilai kebersamaan melalui senam pagi dan fun game yang memantik keceriaan sekaligus menumbuhkan solidaritas. Suasana penuh energi ini semakin diperkuat dengan sesi pengantar inspiratif bertajuk “Penyuluh Agama sebagai Garda Terdepan Advokasi Hukum Umat,” yang membuka wawasan peserta akan tantangan sekaligus peluang besar yang mereka hadapi.

Puncak kegiatan hadir dalam diskusi kelompok yang membedah lima isu hukum paling krusial di tengah masyarakat modern:

  1. Sengketa tanah wakaf dan tata kelola aset keumatan.
  2. Pendirian rumah ibadah dan moderasi beragama.
  3. Pernikahan siri dan dampak hukumnya.
  4. Krisis moral generasi muda akibat pergaulan bebas dan kehamilan remaja.
  5. Pendampingan kasus keluarga mulai dari perceraian hingga KDRT dan hak asuh anak.

Dengan semangat dialog partisipatif, para peserta merumuskan solusi konkret berbasis nilai agama, hukum positif, dan pendekatan kemanusiaan. Diskusi ini menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia memiliki model unik dalam mengintegrasikan agama, hukum, dan advokasi sosial.

Pada sesi siang, kelompok-kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka, lalu dilanjutkan tanggapan panel yang memperkaya perspektif. Suasana akademis, dinamis, dan terbuka ini menjadikan kegiatan IPARI Law Camp bukan sekadar forum lokal, melainkan laboratorium sosial yang layak menjadi rujukan tentang bagaimana agama dapat berjalan beriringan dengan demokrasi, keadilan, dan kebebasan beragama.
Refleksi outdoor pada sesi penutup menghadirkan momentum spiritual dan emosional: semua peserta menyusun rekomendasi bersama dan menyatukan suara dalam Closing Circle – Lingkar Inspirasi. Setiap peserta menyampaikan satu kalimat refleksi yang menggema sebagai ikrar kebersamaan untuk mengawal masa depan bangsa melalui jalan advokasi moral dan hukum.

Dengan mengusung nilai kepemimpinan, komunikasi, advokasi, dan problem solving, acara ini menjadi pesan kepada dunia bahwa penyuluh agama Indonesia siap tampil sebagai agen perubahan global.
“Law Camp One Day ini bukan akhir, melainkan awal dari gerakan besar. Dari Kediri, kami ingin menunjukkan pada dunia bahwa agama bukan sekadar ritus, tetapi energi peradaban yang mampu menyelesaikan persoalan umat,” tegas Dr. Alfiatu Solikah dalam pernyataan penutupnya. Dengan semangat itu, IPARI Law Camp One Day 2025 bukan hanya sebuah kegiatan daerah, melainkan panggung keren bagi lahirnya generasi penyuluh agama yang membawa pesan damai, adil, dan maslahat untuk seluruh umat manusia.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *