Skip to content

Penyuluh Agama Wilayah Kediri Mantapkan Agenda Kemah Moderasi Beragama 2025

Trenggalek, 6 Agustus 2025 — Suasana hangat dan penuh semangat mewarnai Pertemuan Rutin Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) Wilayah Kerja Kediri yang digelar di Hall Bendungan, Desa Ngglinggis, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. Pertemuan ini dihadiri ratusan penyuluh lintas agama dari tujuh kabupaten/kota di wilayah Kediri Raya, dengan agenda utama memperkuat sinergi dan mematangkan rencana penyelenggaraan Kemah Moderasi Beragama 2025.

Kegiatan ini sejatinya direncanakan sebagai forum Bedah Regulasi Penyuluh Agama. Namun, adanya pesan strategis dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten/Kota mendorong penyesuaian agenda. Diskusi regulasi akan dijadwalkan ulang dan dipadukan dengan sosialisasi Buku Panduan Pelaporan Kinerja Penyuluh Agama agar pembahasannya lebih komprehensif dan aplikatif.

Pertemuan kali ini juga menjadi momentum istimewa untuk melepas penyuluh senior, Slamet, M.Si., dari Kabupaten Trenggalek, yang purna tugas. Momen ini bukan sekadar perpisahan, tetapi simbol keberlanjutan ukhuwah dan dedikasi antarpenyuluh di wilayah Kediri Raya.

Transformasi kelembagaan dari Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) menjadi Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) menjadi topik hangat diskusi. Perubahan ini, sesuai amanat regulasi nasional, memperkuat legitimasi organisasi dan profesionalisme jabatan penyuluh agama. Kini, seluruh kegiatan berada dalam koordinasi PD IPARI Kabupaten/Kota, tanpa mengurangi semangat kolegial yang sudah terbangun sejak lama.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa Wilayah Kerja Kediri memiliki 485 penyuluh lintas agama, dengan mayoritas beragama Islam, disusul Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Keberagaman ini menjadi modal sosial yang kokoh dalam mengembangkan program moderasi beragama.

Rencana Kemah Moderasi Beragama sendiri akan memanfaatkan lokasi-lokasi ikonik di tiap daerah: Pantai 360 di Trenggalek, Jurang Senggani di Tulungagung, Hutan Lohji di Blitar, Kelud Exotic Park di Kediri, Bajulan di Nganjuk, Brigif di Kota Kediri, dan Batalyon 511 di Kota Blitar. Kegiatan ini akan menjadi ajang penguatan toleransi, inklusivitas, serta semangat kebangsaan dalam bingkai kebhinnekaan.

Struktur panitia juga telah dibentuk, dengan Wilujeng Wahyudin Santoso (Kabupaten Nganjuk) sebagai ketua, Alfiatu Solikah (Kabupaten Kediri) sebagai sekretaris, dan Lailitul Badriyah (Kota Kediri) sebagai bendahara. Panitia dibagi dalam beberapa divisi, mulai dari kesekretariatan, sarana prasarana, konsumsi, acara, hingga publikasi dan dokumentasi, untuk memastikan acara berjalan lancar.

Kasi Bimas Islam Kemenag Kabupaten Trenggalek mengapresiasi langkah koordinatif ini, menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar slogan, tetapi harus diinternalisasi dalam program nyata yang melibatkan masyarakat lintas iman. “Kemah Moderasi ini akan menjadi bukti bahwa penyuluh agama adalah garda depan penjaga harmoni bangsa,” ujarnya.

Dengan semangat kolaborasi dan komitmen kuat, pertemuan ini menandai babak baru peran strategis penyuluh agama di Wilayah Kediri. Agenda yang dihasilkan bukan hanya relevan secara lokal, tetapi juga mencerminkan kontribusi Indonesia dalam mempromosikan kerukunan umat beragama di mata dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *