Harun Adiyanto, S.Ud
SUMENEP — Harun Adiyanto, S.Ud., Penyuluh Agama Islam pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, meraih Juara 1 Cabang Hafalan Juz 30 pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) VIII Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) Tingkat Nasional 2026 di Sulawesi Selatan.
MTQ VIII KORPRI Nasional 2026 berlangsung pada 23–30 Agustus 2026 di Kota Makassar dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Ajang nasional tersebut mempertemukan para peserta dari berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah se-Indonesia.
Bagi Harun, capaian tersebut bukan sekadar hasil dari sebuah kompetisi. Prestasi itu menjadi buah dari ketekunan menjaga hafalan Al-Qur’an di tengah tugasnya sebagai Penyuluh Agama Islam yang sehari-hari mendampingi masyarakat di Kecamatan Bluto.
Harun lahir di Sumenep pada 10 September 1987. Ia merupakan lulusan S1 Tafsir Hadits dan bertugas sebagai Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep.
Menurut Harun, keikutsertaannya dalam MTQ menjadi pengalaman berharga. Musabaqah, kata dia, tidak semestinya hanya dipahami sebagai arena untuk menentukan pemenang dan yang kalah.
“MTQ bukan sekadar arena untuk menentukan siapa yang menang dan kalah. Ini menjadi ruang untuk semakin mencintai dan mendekatkan diri kepada Al-Qur’an,” ujar Harun.
Selama mengikuti kompetisi, Harun memperoleh pengalaman, ilmu, sahabat, dan motivasi untuk terus belajar. Rasa gugup selama perlombaan, kata dia, justru menjadi bagian dari pengalaman yang tidak terlupakan.
Ia menyampaikan terima kasih kepada para pembimbing, orang tua, dan seluruh pihak yang memberikan doa serta dukungan selama persiapan hingga pelaksanaan MTQ.
PW IPARI Jawa Timur turut mengapresiasi capaian Harun. Prestasi tersebut dinilai menjadi kebanggaan bagi keluarga besar Penyuluh Agama Islam Jawa Timur sekaligus menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan seiring dengan pengembangan kompetensi dan prestasi di bidang Al-Qur’an.
Harun juga mengajak para Penyuluh Agama Islam untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui ilmu, kesabaran, dan keteladanan. Menurut dia, kemampuan di bidang Al-Qur’an seharusnya berjalan beriringan dengan pengabdian kepada masyarakat.
“Menang adalah bonus, tetapi bisa terus mencintai Al-Qur’an adalah kemenangan yang sesungguhnya,” katanya.
Ke depan, Harun berharap dapat terus meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an. Ia juga ingin kembali mengikuti MTQ bersama para penyuluh agama lainnya dengan membawa pengalaman dari kompetisi tingkat nasional tersebut.
“Semoga pengalaman ini menjadi bekal untuk terus memberikan prestasi yang lebih baik dan membanggakan orang tua, guru, serta daerah,” ujar Harun. (dn)
