Surabaya — Pengurus Wilayah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PW IPARI) Jawa Timur melaksanakan pembacaan kitab Dalail al-Khairat secara serentak di berbagai wilayah Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap Gerakan Nasional Gema Sholawat Kebangsaan yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Pelaksanaan pembacaan memasuki hari kedua sesuai Surat Edaran Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor 6 Tahun 2026 tentang Partisipasi dan Dukungan Gerakan Nasional Gema Sholawat Kebangsaan. Berdasarkan panduan pelaksanaan, pembacaan dimulai pada Senin (31/8/2026) dan dijadwalkan berakhir pada Senin (7/9/2026) dengan rangkaian pembacaan yang dibagi ke dalam delapan bagian.
Pada hari kedua, Selasa (1/9/2026), peserta melanjutkan pembacaan Bagian II Dalail al-Khairat. Para penyuluh agama Islam di Jawa Timur mengikuti kegiatan tersebut secara perorangan maupun berjemaah, baik secara luring maupun daring, dari kantor, rumah, masjid atau musala, Kantor Urusan Agama (KUA), pesantren, majelis taklim, serta lokasi pembinaan keagamaan lainnya.
Keterlibatan PW IPARI Jawa Timur tidak hanya diwujudkan melalui partisipasi para penyuluh, tetapi juga melalui peran mereka dalam menyosialisasikan, mengajak, dan menggerakkan masyarakat untuk ikut serta dalam Gema Sholawat. Penyuluh menjadi penghubung antara kebijakan keagamaan Kementerian Agama dan masyarakat di tingkat akar rumput.
Ketua PW IPARI Jawa Timur, Syaifudin Ma’arif, S.Ag., M.Si., mengatakan bahwa penyuluh memiliki posisi strategis dalam memastikan pesan Gema Sholawat sampai dan diikuti masyarakat secara luas.
“Penyuluh agama Islam Jawa Timur siap menjadi bagian penting dalam menggerakkan Gema Sholawat Kebangsaan. Peran kami bukan sekadar membaca dan mengikuti rangkaian kegiatan, tetapi juga mengajak masyarakat, membangun suasana keagamaan yang sejuk, serta menerjemahkan kecintaan kepada Rasulullah SAW ke dalam keteladanan, kepedulian, dan penguatan persaudaraan di tengah masyarakat,” ujar Syaifudin.
Menurutnya, pembacaan Dalail al-Khairat menjadi momentum untuk merawat tradisi keagamaan yang telah tumbuh di tengah masyarakat sekaligus memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai akhlak, persatuan, kedamaian, dan kepedulian sosial.
“Para penyuluh di setiap kabupaten dan kota terus berkoordinasi dengan KUA, masjid dan musala, majelis taklim, pesantren, lembaga pendidikan keagamaan, serta komunitas masyarakat. Sinergi ini penting agar Gema Sholawat tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi gerakan bersama yang hidup di tengah masyarakat,” imbuhnya.
Surat edaran tersebut menyebutkan bahwa Gema Sholawat Kebangsaan terbuka bagi aparatur sipil negara Kementerian Agama dan masyarakat umum. Pembacaan dapat dilakukan secara sederhana, sukarela, partisipatif, inklusif, dan efisien tanpa harus menyelenggarakan seremoni khusus yang menimbulkan pembiayaan.
Selain membaca Dalail al-Khairat, peserta juga diarahkan untuk mendaftarkan partisipasi melalui kanal resmi Gema Sholawat Kebangsaan. Dokumentasi kegiatan berupa foto atau video dapat dilakukan oleh satuan kerja maupun kelompok masyarakat sebagai bagian dari dokumentasi gerakan nasional tersebut.
Gerakan Nasional Gema Sholawat Kebangsaan akan diluncurkan pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tingkat Nasional di Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Melalui gerakan ini, Kementerian Agama mengajak masyarakat menghidupkan tradisi selawat, mengenal dan meneladani akhlak Rasulullah SAW, serta mendoakan bangsa Indonesia agar senantiasa dianugerahi kedamaian, persatuan, dan keberkahan.
