PASURUAN — Sebanyak 126 penyuluh agama dari Kota Surabaya mengikuti Kemah Moderasi Beragama yang diselenggarakan Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD IPARI) Kota Surabaya di Bumi Perkemahan Agrowisata Bhakti Alam, Kabupaten Pasuruan, pada 29–30 Juli 2026. Kegiatan bertema “Harmoni di Alam, Merajut Keberagaman: Penyuluh Hebat, Surabaya Bermartabat” ini bertujuan memperkuat komitmen penyuluh agama dalam mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama sekaligus mempererat kebersamaan antarpenyuluh.
Kemah dibuka melalui apel yang dipimpin Ketua Pengurus Wilayah (PW) IPARI Jawa Timur, Syaifudin Ma’arif, S.Ag., M.Si. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh penyuluh agama untuk terus menggelorakan semangat moderasi beragama, memperkuat persatuan, dan meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat melalui sinergi organisasi.
Menurut Syaifudin, Jawa Timur merupakan pelopor penyelenggaraan Kemah Moderasi Beragama yang pertama kali dilaksanakan pada 2017. Ia berharap kegiatan serupa dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai sarana mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat komitmen penyuluh agama dalam menjaga kerukunan umat beragama.
“Kita berharap semangat yang lahir dari kemah ini terus tumbuh dalam pelaksanaan tugas penyuluh di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sebagai simbol komitmen terhadap toleransi dan kebersamaan, apel pembukaan ditutup dengan doa bersama yang melibatkan lima agama.
Ketua PD IPARI Kota Surabaya, Rini Widiarti, S.Ag., M.Sy., mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah untuk memperkuat kapasitas penyuluh agama sebagai agen penguat kerukunan di tengah masyarakat.
“Melalui Kemah Moderasi Beragama ini, kami berharap seluruh penyuluh agama semakin mampu menjadi penggerak terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun, harmonis, dan moderat,” katanya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Dr. H. Muhammad Muslim, S.Ag., M.Sy., yang turut hadir memberikan pembinaan, mengapresiasi dedikasi para penyuluh agama di Kota Surabaya. Menurutnya, penyuluh telah menunjukkan kompetensi yang tinggi dalam mendukung berbagai program strategis Kementerian Agama, termasuk pelaksanaan bimbingan perkawinan yang selama ini menjadi bagian dari pelayanan keagamaan.
“Hal ini menunjukkan bahwa penyuluh agama memiliki kompetensi yang luar biasa dan mampu menjalankan berbagai peran dalam pelayanan keagamaan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa moderasi beragama tidak cukup dipahami sebagai konsep, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari melalui sikap saling menghormati, membangun hubungan harmonis dengan pemeluk agama lain, serta menolak segala bentuk ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian, dan provokasi yang berpotensi mengganggu kerukunan masyarakat.
Rangkaian Kemah Moderasi Beragama ditutup dengan penanaman pohon secara simbolis oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya didampingi Ketua PD IPARI Kota Surabaya, Ketua PW IPARI Jawa Timur, dan Bendahara PW IPARI Jawa Timur, M. Zakariya, S.Ag., M.Pd.I. Sebanyak dua pohon jambu, satu pohon mahoni, dan satu pohon pule ditanam sebagai bentuk dukungan terhadap Gerakan Ekoteologi Kementerian Agama serta komitmen penyuluh agama dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Melalui kegiatan ini, PD IPARI Kota Surabaya berharap nilai-nilai moderasi beragama, kepedulian terhadap lingkungan, dan semangat kolaborasi terus menjadi bagian dari pengabdian penyuluh agama dalam melayani masyarakat dan memperkuat persatuan bangsa.(fajrur/icha)
