Oleh Saikhul Hadi
Penyuluh Agama Islam Kabupaten Mojokerto
Mojokerto, 26 Mei 2026- Bulan-bulan ini muslim seluruh dunia mulai bersiap membanjiri Makkah dengan seruan talbiyah. Mereka memenuhi seruan perintah untuk menunaikan haji di Baitullah. (QS. 22 : 27). Haji adalah ibadah besar yang membutuhkan persiapan besar, biaya besar, tenaga besar, tempat besar, terjadi di bulan Besar, dan dengan jumlah peserta yang besar.
Surat Al-Maidah ayat 82 turun berisi pujian terhadap rahib-rahib Nasrani karena mereka tidak menyombongkan diri. Para sahabat bertanya, “Bila begitu mulianya para rahib, mengapa Islam tidak mengajarkan kerahiban?” Rasulullah Saw bersabda: “Allah sudah menggantikannya bagi kita dengan jihad dan takbir di setiap tempat tinggi; yakni, haji.”
Jalaluddin Rahmat menyebut haji sebagai ‘kerahiban’ dalam Islam. Namun ada dua yang membedakannya dengan ajaran kerahiban Nasrani dan agama-agama lain. Pertama, kerahiban haji ini diwajibkan kepada semua umat Islam yang sudah memenuhi syarat. Kedua, kerahiban ini bersifat temporer, sementara, pada waktu tertentu.
Sebagaimana para rahib, orang-orang yang pergi haji harus menjalani tiga sumpah sekaligus : tidak rafats, tidak fusuq, tidak jidal. Ketiganya termaktub dalam Al-Baqarah 197 : “Haji itu pada bulan-bulan yang tertentu. Barangsiapa sedang menjalankan kewajiban haji, janganlah ia bercampur (suami isteri), jangan memaki, dan jangan bertengkar pada waktu haji…”
Rafast adalah hubungan suami istri atau segala perbuatan yang mengarah pada pemuasan hawa nafsu syahwati. Fusuq adalah perbuatan dan perkataan yang dimaksudkan untuk menyakiti, menyerang, merusak, mengganggu, atau merendahkan orang lain. Jidal berkaitan dengan pertengkaran atau perdebatan yang membuat orang lain marah. Dalam jidal, semua orang menganggap pendapatnyalah yang paling benar.
Ketiga ikrar ini sebenarnya melambangkan tiga kekuatan yang bercokol di dalam hati kita : kekuatan syahwat, kekuatan amarah, dan kekuatan setan. Kekuatan syahwat mendorong kita untuk mengejar kesenangan jasmaniah –makan, minum, seks, hiburan, uang, kekuasaan, dan sebagainya. Termasuk di dalamnya adalah nafsu politik, ekonomi, sosial, dll.
Kekuatan amarah berhubungan dengan dorongan untuk mengungguli atau mengalahkan orang lain. Di dalamnya termasuk kesombongan, kedengkian, dendam-kesumat, kebencian, terhadap orang atau kelompok lain. Merasa pendapatnya paling benar. Merasa madzabnya paling benar. Lalu, dengan argumen agama dan atas nama Tuhan mencaci, menghujat, bahkan tak segan mengalirkan darah sesama makhluk Allah.
Terakhir, kekuatan setan atau wahmiyah. Kekuatan inilah yang memberikan perasaan benar terhadap suatu perbuatan dosa. Setan tidak pernah kehilangan akal untuk merekayasa suatu perbuatan buruk menjadi tampak perbuatan baik. Dalam kenyataan, bejibun contohnya. Menyuap pejabat direkayasa sebagai ucapan terima kasih. Menggunakan uang korupsi untuk membangun tempat ibadah dan sekolah. Menggosip disebut infotaiment. Itu sebagian kecil kekuatan setan merekaya suatu perbuatan.
Berhaji berarti berani mengikat janji dengan Allah untuk tidak melanggar ketiga sumpah tersebut. Karena di sinilah sebenarnya letak pesan inti yang disampaikan Allah kepada manusia lewat ibadah haji. Bukan pada gebyar syukuran berangkat haji. Bukan pada enaknya fasilitas pemondokan dan tebalnya uang saku. Juga bukan pada banyaknya oleh-oleh haji dan jumlah penjemput saat pulang haji. Bukan berarti semua itu tidak penting, tetapi alangkah sia-sianya menyepuh kulit kacang dengan emas, sebab pada akhirnya, yang paling menentukan adalah isinya, bukan kulitnya. Yang bisa tumbuh adalah bijinya, tidak bungkusnya.
Biji apa yang bisa didapat dari berhaji? Tak lain adalah hati yang telah terkelupas dari tiga unsur di atas: rafast, fusuq, dan jidal. Hati seperti inilah yang bila dibawa pulang dan ditanamkan dengan kerendahan hati akan tumbuh menjadi pohon pribadi yang subur, yang jika dilempari batu hinaan dan cacian akan membalasnya dengan buah-buah nasihat dan petuah yang lezat rasanya. Menjadi pohon yang rindang, yang tak menolak siapapun yang ingin berteduh di bawahnya, tak peduli agama dan golongannya. Mempunyai dahan-dahan yang banyak dan kuat sehingga bisa menopang orang-orang yang ingin bergantung padanya.
Bisa jadi ada yang salah dalam cara kita beribadah. Negara kita mendapat porsi (kuota) haji terbanyak. Otomatis, jumlah hujjaj nomor satu. Namun, entah kenapa juga, kemungkaran massal –korupsi, kekerasan, kemiskinan, kebodohan, pengangguran, kezaliman, kejahatan, dll – juga masih nangkring diposisi sepuluh besar masalah yang dihadapi bangsa ini. Seolah-olah tak ada jejak yang bisa menghubungkan antara ibadah langit dan ibadah bumi.
Mungikin ini yang disebut paradoks ibadah. Para haji berusaha menjaga diri agar tidak selembar rambut pun jatuh pada waktu ihram, karena takut kena dam, tetapi lidah mereka gampang saja menyerang orang lain, daring dan luring, karena tidak ada damnya.
Raganya berputar mengelilingi Baitullah, namun hatinya masih men-thawaf-i kesenangan badani. Raganya berlari-lari dari Safa – Marwa, namun hatinya berlari-lari memecah belah persatuan umat. Raganya duduk di padang Arafah, namun hatinya belum bergeser dari penyakit hati: iri dengki, hasud, dendam, dst. Tangannya melempar tugu simbol setan dengan batu, namun di dalam hatinya, setan balas melemparinya dengan uang, kekuasaan, emas permata, kesenangan, dan sebagainya. Syarat, rukun, dan sunnah-sunnah haji, semua terpenuhi. Sayang mereka lupa menghajikan hatinya.
Mudah-mudahan, saudara-saudara kita yang tahun ini hendak pergi haji tidak lupa membawa serta ‘hati’nya untuk diajak berthawaf, sai, dan wukuf. Haji memang ibadah raga. Tapi jejaknya harus nembus jiwa dan hati.
Wallahu a’lam bisshawab.
