- #IPARIJatim
- @ipari
- artikel
- beritaipari
- bimasislam
- ipari
- iparijatim
- kemenagri
- penaipari
- penais
- penyuluhbergerak
- penyuluhjaya
- ppipari
- wartaipari
Malang (Penyuluh) – Penyuluh Agama Malang Barat Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang menginisiasi Gerakan Kenduri Moderasi, sebuah forum dialog yang mempertemukan pemuda dan pemudi lintas agama dalam semangat memperkuat moderasi beragama, toleransi, serta persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.
Kegiatan yang mengusung tema “Kenduri Moderasi” ini diselenggarakan pada Selasa (7/7/2026) di Pendopo Balai Desa Wonoagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Forum tersebut diikuti oleh perwakilan organisasi kepemudaan lintas agama, di antaranya IPNU, IPPNU, Peradah, Patria, dan Pemuda Gereja.
Ketua Komunitas Sapu Jagat, Yeni Kartikaningsih, M.H., yang juga merupakan Penyuluh Agama Islam pada KUA Kasembon dan KUA Ngantang, dalam sambutannya menyampaikan bahwa keberagaman merupakan anugerah yang harus dijaga bersama. Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting sebagai agen perdamaian sekaligus penjaga persatuan bangsa.

“Kenduri Moderasi bukan sekadar forum diskusi, tetapi ruang perjumpaan untuk saling mengenal, saling memahami, dan membangun kepercayaan di antara pemuda lintas agama. Ketika komunikasi terbangun dengan baik, maka prasangka dapat dikikis dan persaudaraan akan semakin kuat,” ujarnya.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Desa Wonoagung yang diwakili Sekretaris Desa, Suwandi. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi inisiatif Penyuluh Agama Malang Barat yang telah menghadirkan wadah dialog lintas agama bagi generasi muda.
“Pemerintah Desa Wonoagung mendukung penuh kegiatan seperti ini karena mampu memperkuat kerukunan masyarakat. Semoga forum ini menjadi awal lahirnya kolaborasi-kolaborasi positif yang melibatkan pemuda lintas agama dalam membangun desa yang harmonis,” katanya.
Prosesi pembukaan ditutup dengan Doa Lintas Agama, yang menjadi simbol penghormatan terhadap keberagaman sekaligus ikhtiar bersama memohon keberkahan agar kegiatan berjalan dengan lancar dan membawa manfaat bagi seluruh peserta.

Suasana hangat mulai terasa ketika seluruh peserta mengikuti sesi perkenalan yang dilanjutkan dengan Fun Game. Berbagai permainan kolaboratif tersebut dirancang untuk membangun keakraban, mempererat komunikasi, serta menghilangkan sekat-sekat perbedaan sehingga tercipta hubungan yang lebih akrab antarpeserta.
Memasuki sesi diskusi, peserta mendapatkan materi dari dua narasumber, yaitu Mohamad Husen, S.Ag., Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang, dan Yafet Arnold Lalenoh, Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang.
Dalam pemaparannya, Mohamad Husen menjelaskan bahwa moderasi beragama merupakan cara menjalankan ajaran agama secara adil, proporsional, dan tidak berlebihan.
“Moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama. Moderasi beragama adalah sikap dewasa dalam menjalankan keyakinan masing-masing dengan tetap menghormati hak orang lain untuk memeluk dan menjalankan agamanya,” jelasnya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk bijak bermedia digital melalui prinsip “Saring Sebelum Sharing”. Menurutnya, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi berpotensi memicu kesalahpahaman bahkan konflik di tengah masyarakat.
“Hoaks sering kali memanfaatkan sentimen agama untuk memecah persatuan. Karena itu, setiap informasi harus diverifikasi terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada orang lain,” tegas Husen.
Sementara itu, Yafet Arnold Lalenoh menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan sikap toleran yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Orang yang moderat adalah orang yang mampu menghargai perbedaan, tidak bersikap ekstrem, dan mengedepankan kebijaksanaan dalam menjalankan ajaran agamanya. Perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, tetapi menjadi kesempatan untuk saling mengenal dan bekerja sama dalam kebaikan,” ungkapnya.
Yafet juga mengingatkan pentingnya peran generasi muda dalam menghentikan penyebaran hoaks.
“Jangan menjadi mata rantai penyebaran berita yang belum jelas kebenarannya. Jika menerima informasi yang meragukan, hentikan di diri kita dan lakukan pengecekan terlebih dahulu. Dengan begitu kita ikut menjaga persatuan dan kerukunan masyarakat,” pesannya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan, pengalaman, dan pandangan yang disampaikan peserta mengenai praktik toleransi di lingkungan masing-masing. Forum tersebut menjadi ruang belajar bersama sekaligus memperkuat pemahaman bahwa kerukunan dapat dibangun melalui dialog yang terbuka dan saling menghormati.

Pada akhir kegiatan, seluruh perwakilan organisasi kepemudaan menyampaikan kesan dan pesan. Mereka mengapresiasi terselenggaranya Kenduri Moderasi yang dinilai memberikan pengalaman baru dalam membangun relasi lintas agama serta memperkuat semangat kebersamaan.
Para peserta berharap Gerakan Kenduri Moderasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan dapat menjadi agenda berkelanjutan yang melibatkan lebih banyak pemuda lintas agama di Kabupaten Malang. Mereka meyakini bahwa ruang dialog seperti ini akan melahirkan generasi yang mampu menjadi pelopor kerukunan, menangkal penyebaran hoaks, serta menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman.
Melalui Gerakan Kenduri Moderasi, Penyuluh Agama Malang Barat Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang kembali menegaskan komitmennya dalam mengimplementasikan penguatan moderasi beragama melalui pendekatan edukatif, dialogis, dan kolaboratif. Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi lahirnya komunitas pemuda lintas agama yang aktif membangun harmoni sosial, memperkokoh persaudaraan kebangsaan, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.





